[PRE ORDER]
Mind the Gap: Menjembatani Celah,
Menyusun Masa Depan
Dalam hidup ini, sering kali kita tidak
benar-benar jatuh karena lubang besar—melainkan tersandung oleh celah-celah
kecil yang tak kita sadari. Buku Mind the Gap karya Dr. Pramudianto
hadir sebagai refleksi sekaligus peta perjalanan untuk menyeberangi berbagai
"gap" dalam hidup personal, profesional, organisasi, hingga
kebangsaan. Dimulai dari renungan filosofis "Dubito, ergo cogito, ergo sum"—aku
meragukan, maka aku berpikir, maka aku ada—buku ini mengajak kita memahami
bahwa berpikir kritis adalah jembatan awal menuju perubahan bermakna.
Bab pertama Thinking Gap mengupas
akar kesenjangan berpikir dalam menghadapi realitas. Di era penuh informasi,
bukan kurangnya pengetahuan yang jadi persoalan, melainkan cara bertanya,
memproses, dan menganalisis. Bab ini menekankan pentingnya curiosity dan
critical thinking sebagai fondasi pembelajar sepanjang hayat dan pemimpin masa
depan.
Bab kedua, Mind the HR Gap,
menguraikan tantangan dunia kerja dalam membina, mengembangkan, dan
mempertahankan talenta. Dengan pendekatan Human Idea—yang mengadopsi filosofi
bertani: menanam, menyiram, dan memberi pertumbuhan—bab ini menyoroti
pentingnya keseimbangan antara modal sosial, modal pembelajaran, dan modal
teknologi dalam mengelola sumber daya manusia di era disrupsi.
Bab ketiga, Bridging the Gap,
menekankan pentingnya pemetaan kesenjangan organisasi, baik dalam aspek
kompetensi, budaya, maupun generasi. Kepemimpinan yang visioner membutuhkan
keberanian untuk mengakui "di mana kita berada" dan "ke mana
kita ingin melangkah", lalu menjembatani keduanya dengan strategi yang
tepat.
Bab keempat, The Change Gap,
mengulas bagaimana perubahan tidak cukup didekati dari sisi struktur, tapi juga
dari sisi manusia. Dengan menyelami berbagai model perubahan—ADKAR, Kotter,
Lewin, McKinsey, dan lainnya—penulis menegaskan bahwa tidak ada satu pendekatan
universal, melainkan perlu konteks dan empati dalam manajemen transisi.
Bab kelima, The Leadership Gap,
menyentuh sisi terdalam kepemimpinan: celah antara potensi tertinggi dan sisi
rapuh manusiawi yang muncul saat lelah, takut, atau kehilangan arah. Buku ini
menantang pemimpin untuk tidak hanya mengelola tim, tetapi juga mengelola
dirinya—dengan kesadaran, kejujuran, dan kerendahan hati.
Bab keenam, The Family Business Gap,
menawarkan perspektif segar pada transisi bisnis keluarga menuju
profesionalisme. Dengan membedah isu suksesi, konflik generasi, dan tantangan
transparansi, buku ini membantu pembaca menavigasi kompleksitas unik bisnis
berbasis darah dan nilai.
Bab ketujuh, The Gap Coaching,
menggambarkan pentingnya coaching dalam menjembatani potensi individu dan
performa nyata. Melalui kisah Shin Tae-yong hingga praktik eksekutif coaching,
pembaca diajak memahami bahwa semua orang—termasuk pemimpin—membutuhkan
"cermin" untuk melihat titik buta dan bertumbuh.
Bab terakhir, The Strategy Gap,
merangkum misi utama buku ini: menjembatani antara ide dan eksekusi. Mengutip
Ram Charan, “70% kegagalan strategi disebabkan bukan karena kurangnya ide,
tetapi lemahnya pelaksanaan.” Buku ini menutup dengan semangat perbaikan
berkelanjutan: simply, improvement.
Mind the Gap bukan sekadar buku, tapi panduan hidup dan kerja, penuh inspirasi,
praktis, dan reflektif. Sebuah ajakan untuk melihat lebih dalam, berpikir lebih
tajam, dan bertindak lebih bermakna. Sebab hidup ini bukan soal menghindari
celah, tapi berani menjembataninya.
| Tahun Terbit |
| 2025 |
| Penulis |
| Pramudianto |
| ISBN |
| Edisi |
| I |
| Halaman |
| 320 |
