Andi Publisher > Agama Kristen > Mind The Gap: Menemukan Makna Dalam Kesenjangan, Menemukan Arah Dalam Ketidakpastian.
-491729 jam -27 Menit -58 Detik

Mind The Gap: Menemukan Makna dalam Kesenjangan, Menemukan Arah dalam Ketidakpastian.


Rp 1
Rp 1 0% OFF

















Tanya Produk
Masukkan Keranjang
Beli Sekarang


[PRE ORDER]


Mind the Gap: Menjembatani Celah, Menyusun Masa Depan

Dalam hidup ini, sering kali kita tidak benar-benar jatuh karena lubang besar—melainkan tersandung oleh celah-celah kecil yang tak kita sadari. Buku Mind the Gap karya Dr. Pramudianto hadir sebagai refleksi sekaligus peta perjalanan untuk menyeberangi berbagai "gap" dalam hidup personal, profesional, organisasi, hingga kebangsaan. Dimulai dari renungan filosofis "Dubito, ergo cogito, ergo sum"—aku meragukan, maka aku berpikir, maka aku ada—buku ini mengajak kita memahami bahwa berpikir kritis adalah jembatan awal menuju perubahan bermakna.

Bab pertama Thinking Gap mengupas akar kesenjangan berpikir dalam menghadapi realitas. Di era penuh informasi, bukan kurangnya pengetahuan yang jadi persoalan, melainkan cara bertanya, memproses, dan menganalisis. Bab ini menekankan pentingnya curiosity dan critical thinking sebagai fondasi pembelajar sepanjang hayat dan pemimpin masa depan.

Bab kedua, Mind the HR Gap, menguraikan tantangan dunia kerja dalam membina, mengembangkan, dan mempertahankan talenta. Dengan pendekatan Human Idea—yang mengadopsi filosofi bertani: menanam, menyiram, dan memberi pertumbuhan—bab ini menyoroti pentingnya keseimbangan antara modal sosial, modal pembelajaran, dan modal teknologi dalam mengelola sumber daya manusia di era disrupsi.

Bab ketiga, Bridging the Gap, menekankan pentingnya pemetaan kesenjangan organisasi, baik dalam aspek kompetensi, budaya, maupun generasi. Kepemimpinan yang visioner membutuhkan keberanian untuk mengakui "di mana kita berada" dan "ke mana kita ingin melangkah", lalu menjembatani keduanya dengan strategi yang tepat.

Bab keempat, The Change Gap, mengulas bagaimana perubahan tidak cukup didekati dari sisi struktur, tapi juga dari sisi manusia. Dengan menyelami berbagai model perubahan—ADKAR, Kotter, Lewin, McKinsey, dan lainnya—penulis menegaskan bahwa tidak ada satu pendekatan universal, melainkan perlu konteks dan empati dalam manajemen transisi.

Bab kelima, The Leadership Gap, menyentuh sisi terdalam kepemimpinan: celah antara potensi tertinggi dan sisi rapuh manusiawi yang muncul saat lelah, takut, atau kehilangan arah. Buku ini menantang pemimpin untuk tidak hanya mengelola tim, tetapi juga mengelola dirinya—dengan kesadaran, kejujuran, dan kerendahan hati.

Bab keenam, The Family Business Gap, menawarkan perspektif segar pada transisi bisnis keluarga menuju profesionalisme. Dengan membedah isu suksesi, konflik generasi, dan tantangan transparansi, buku ini membantu pembaca menavigasi kompleksitas unik bisnis berbasis darah dan nilai.

Bab ketujuh, The Gap Coaching, menggambarkan pentingnya coaching dalam menjembatani potensi individu dan performa nyata. Melalui kisah Shin Tae-yong hingga praktik eksekutif coaching, pembaca diajak memahami bahwa semua orang—termasuk pemimpin—membutuhkan "cermin" untuk melihat titik buta dan bertumbuh.

Bab terakhir, The Strategy Gap, merangkum misi utama buku ini: menjembatani antara ide dan eksekusi. Mengutip Ram Charan, “70% kegagalan strategi disebabkan bukan karena kurangnya ide, tetapi lemahnya pelaksanaan.” Buku ini menutup dengan semangat perbaikan berkelanjutan: simply, improvement.

Mind the Gap bukan sekadar buku, tapi panduan hidup dan kerja, penuh inspirasi, praktis, dan reflektif. Sebuah ajakan untuk melihat lebih dalam, berpikir lebih tajam, dan bertindak lebih bermakna. Sebab hidup ini bukan soal menghindari celah, tapi berani menjembataninya.

Tahun Terbit
2025
Penulis
Pramudianto
ISBN
Edisi
I
Halaman
320
Belum ada ulasan untuk produk ini
Belum ada diskusi untuk produk ini